Jual Tetes Tebu ( Molasse / Mulases / Molases ) Dalam Jumlah Besar


Sedia / Jual tetes tebu (Jual Molase) dengan harga murah & ready stok dalam jumlah besar. Hubungi 0811272069 untuk pembelian atau informasi.


------------------------------------------------------------------------------------------
Kami menyediakan / jual tetes tebu yang dapat digunakan untuk bahan pembuatan Ethanol, Methanol, MSG, Pemanis, Pakan Ternak dan lain-lain.

Sekilas tentang tetes tebu
Tetes tebu atau istilah ilmiahnya molases adalah produk sisa pada proses pembuatan gula. Tetes diperoleh dari hasil pemisahan sirop low grade dimana gula dalam sirop tersebut tidak dapat dikristalkan lagi. Pada sebuah pemrosesan gula, tetes tebu yang dihasilkan sekitar 5 – 6 %. Walaupun masih mengandung gula, tetes sangat tidak layak untuk dikonsumsi karena mengandung kotoran-kotoran bukan gula yang membahayakan kesehatan. Mengingat nilai ekonomis yang masih tinggi, Pabrik Gula menjual hasil tetes tebunya ke pabrik-pabrik yang memang membutuhkan tetes ini. Semisal contohnya : pabrik alkohol, pabrik pakan ternak dan lain sebagainya.

Tetes tebu kami murni langsung dari pabrik
Ready stock dalam jumlah besar
Melayani pesanan dengan sistem kontrak
Minimal pembelian 25 Ton dan pengiriman menggunakan truk tangki (curah)



Cara Pembelian Diambil Di Tempat Kami:
  • Buyer menghubungi kami melalui SMS untuk mendapatkan harga tetes tebu di hari tersebut
  • Buyer mendapatkan harga dan menentukan jumlah pembelian (Minimal 25 Ton)
  • Buyer mengirimkan Purchase Order (PO) kepada kami dan DP 30% dari nilai transaksi
  • Setelah ada PO dan DP, kami menyiapkan tetes tebu yang dipesan
  • Pengambilan tetes tebu dan pelunasan dapat dilakukan di gudang kami di Tangerang.
 
Cara Pembelian Diantar Sampai Tempat Buyer:
  • Buyer menghubungi kami melalui SMS, Telp, Email atau BBM untuk mendapatkan harga tetes tebu di hari tersebut
  • Buyer mendapatkan harga dan menentukan jumlah pembelian (Minimal 25 Ton)
  • Buyer melakukan pembayaran DP 50% dari nilai transaksi
  • Transfer dapat dilakukan ke rekening sebagai berikut:
MANDIRI 130-00-3330022-2 atas nama PT. Hendrian Tsabat Utama
BCA 775-032-777-4 atas nama PT. Hendrian Tsabat Utama
BNI 0222-335117 atas nama PT. Hendrian Tsabat Utama
  • Pembayaran sisanya dapat dilakukan ketika Tetes Tebu sampai di tempat Buyer

Harga dapat berubah setiap harinya, untuk harga dan informasi lebih lanjut / peminat serius, dapat menghubungi:
Phone: 0811 272 069 / 0857 2010 5871
Email: bisnis@hernawanadiwibowo.com

Penetapan Bea Keluar Tetes Tebu Dan Swasembada Kedelai

Gejala inflasi di negara-negara dunia seringkali terjadi ketika menjelang hari-hari besar. Di Indonesia, telah terbentuk pola dimana terjadi lonjakan harga-harga barang menjelang Ramadan dan hari raya lebaran (Syawal). Lonjakan harga terutama terjadi pada kebutuhan pokok. Dengan demikian menjadi sangat penting dalam memantau harga kebutuhan pokok seperti: beras, tepung terigu, gula pasir, minyak goreng, dan kedelai.  Pergerakan harga-harga komoditi tersebut sebagaimana dilaporkan Departemen Perdagangan dapat dilihat pada tabel berikut:

Jual Tetes Tebu, Jual Molase, Jual Molases

Perbandingan Harga Rata-Rata Nasional (Rp/Kg) Komoditi Kebutuhan Pokok
Hingga 3 Agustus  2009

040809table1.jpg


Pada enam hari terakhir kenaikan harga komoditi pokok terjadi pada beras sebesar Rp 21,- (0,37%), gula pasir lokal sebesar Rp. 192,- (2,27%), dan minyak goreng curah sebesar Rp.5,- (0,06%). Sedangkan penurunan harga terjadi pada komoditi tepung terigu sebesar Rp.30,- (0,39%), minyak goreng kemasan sebesar Rp. 60,- (0,71%), dan kedelai impor sebesar Rp.14,- (0,17%). Untuk kedelai lokal tidak ada perubahan, harga tetap Rp. 8.638,- per kg.


Dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Juni 2009, maka komoditi pokok beras dan  gula pasir lokal  mengalami kenaikan harga pada 3 Agustus 2009. Penurunan harga terjadi pada tepung terigu, minyak goreng kemasan, minyak goreng curah, kedelai impor, dan kedelai lokal.


Jika dibandingkan dengan harga rata-rata bulan Mei 2009, maka komoditi pokok gula pasir lokal dan kedelai lokal mengalami kenaikan harga pada 3 Agustus 2009. Penurunan harga terjadi pada komoditi beras, tepung terigu, minyak goreng kemasan, minyak goreng curah dan kedelai impor.


Pergerakan harga komoditi tersebut juga dapat digambarkan melalui grafik berikut:
040809graphic1.jpg


Pajak Ekspor Tetes Tebu


Harga tetes tebu (molasses) dalam negeri pada Mei 2009 sebesar US$ 98,2 per ton dan di pasar internasional sebesar US$ 120 per ton. Hal ini menyebabkan meningkatnya volume ekspor tetes tebu, sehingga pasokan untuk bahan baku industri MSG dan etanol dalam negeri tidak tercukupi. Untuk dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian mengusulkan kepada Dirjen Perdagangan Luar Negeri Departemen Perdagangan agar dikenakan pajak ekspor tetes tebu secara progresif 5-35 persen atau berdasarkan persentase tertentu (misalnya 22,19%) jika harga di pasar global di atas US$ 80 per ton.

Jual Tetes Tebu, Jual Molase, Jual Molases



Hal ini dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan tetes tebu, yang merupakan bahan baku industri MSG dan etanol, di dalam negeri. Sebagaimana diberitakan sejumlah media massa bahwa pada akhir-akhir ini pasokan bahan bakar nabati berupa etanol di dalam negeri sangat terbatas karena kesulitan mendapatkan bahan bakunya. Petani lebih senang mengekspor tetes tebu karena harga di pasar global jauh lebih tinggi dari pasar dalam negeri. Sehubungan dengan hal tersebut, instansi yang berwenang melihat perlunya perlindungan terhadap produsen MSG dan etanol dalam mengakses bahan baku berupa tetes tebu agar produksi dalam negeri tetap bisa terjaga.


Namun rencana ini telah ditolak oleh Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, karena pengenaan pajak tersebut dinilai hanya menguntungkan perusahaan MSG dan etanol saja, dan di pihak lain akan merugikan petani tebu. Pada tahun 2009 ini, petani tebu baru merasakan peningkatan harga tetes tebu yang telah berada di atas Rp 1.000,- per kg. Pada tahun 2008, harga tetes tebu selalu berada di bawah Rp 1.000,- per kg. Sebagaimana diketahui bahwa petani tebu mendapat bagi hasil dari hasil samping pengolahan gula, yaitu tetes tebu sebesar 2,5 kilogram setiap 100 kilogram tebu yang digiling di pabrik gula.


Menurut petani tebu, kebijakan pajak ekspor tersebut akan membebani mereka karena mempersempit pangsa pasar sehingga dapat menurunkan harga, yang pada akhirnya akan menurunkan pendapatan mereka. Kebijakan tersebut juga mengurangi kesempatan mereka menikmati keuntungan dari melambungnya harga tetes tebu di pasar internasional. Petani menginginkan bahwa jika pada saat harga tetes tebu/gula di luar negeri tinggi, pemerintah ingin menerapkan pajak ekspor, maka pada saat harga tetes tebu/gula di pasar internasional rendah dan produksi dalam negeri kalah bersaing di pasar domestik, seharusnya pemerintah segera menerapkan bea masuk impor, tetapi kenyataannya selama ini tidak demikian.


Disisi lain sejumlah pengamat mengemukakan bahwa ketersediaan pasokan tetes tebu di dalam negeri memang harus diutamakan. Dengan membumbungnya harga tetes tebu di pasar internasional, petani lebih memilih mengekspor tetes tebu tersebut ke luar negeri dan mengabaikan pasokan dalam negeri. Hal ini dapat berdampak pada keberlangsungan perusahaan MSG dan etanol di dalam negeri, yang selanjutnya dapat berpengaruh pada peningkatan pengangguran akibat perusahaan-perusahaan tersebut melakukan PHK terhadap sebagian/seluruh buruhnya. Tahun 2008, rata-rata stok tetes tebu dalam negeri 1,4 juta liter. Dipakai oleh produsen Ethanol 600 ribu liter, untuk pakan ternak 600 ribu liter, sisanya 200 ribu liter diekspor. Sekarang total ekspor tetes tebu oleh produsennya sudah mencapai 800 ribu liter karena harga dalam negeri kurang menarik, dan sisanya baru dipasok untuk pasar domestik.


Agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan, sejumlah pakar menyarankan untuk menaikkan pajak ekspor tetapi harga patokannya tetap, atau menaikkan harga patokan namun dengan tarif pajak tetap. Hal ini dapat memberikan insentif kepada petani tebu untuk terus menanam tebu tanpa memikirkan pangsa pasar luar negeri karena harga dalam negeri juga terjamin dengan adanya harga patokan yang tetap.

Jual Tetes Tebu, Jual Molase, Jual Molases



Swasembada Kedelai
Swasembada kedelai yang direncanakan dapat tercapai pada 2012 haruslah diikuti dengan berbagai langkah dalam menstabilkan harga kedelai di dalam negeri. Bea masuk kedelai yang saat ini masih nol persen dinilai  tidak berpihak pada petani kedelai. Hal ini dikarenakan kedelai lokal cenderung kalah bersaing dengan maraknya kedelai impor yang masuk di pasaran dengan harga yang lebih murah.  Oleh karena itu perlu peninjauaan ulang terhadap kebijakan tersebut.
Pengamat menilai dengan merubah bea masuk kedelai impor dari nol persen menjadi 10-20 persen dianggap dapat  mendorong harga kedelai lokal menjadi lebih kompetitif. Dengan demikian petani dapat melakukan intensifikasi untuk meningkatkan produksinya dan ketergantungan terhadap kedelai impor akan dapat dikurangi.


Produksi kedelai Indonesia selama 1992 hingga 2000 selalu melampaui satu juta ton per tahun. Namun kemudian cenderung terus merosot, dan pada 2008 hanya sebesar 776.491 ton. Pada 2009 diperkirakan produksinya naik sedikit, mencapai 850.226 ton dari luas panen sebesar 638.103 hektare. Sementara kebutuhan nasional untuk kedelai mencapai 2,2 juta ton per tahun.


Dalam rangka meningkatkan produksi kedelai dalam negeri, diperlukan perbaikan infrastruktur jalan dan pelabuhan. Upaya seperti perwilayahan lahan maupun penerapan pola tanam juga perlu dilakukan. Untuk sistem pewilayahan, dilakukan dengan menetapkan kawasan tertentu hanya untuk petani kedelai. Di Indonesia terdapat sejumlah lahan yang sangat potensial untuk pengembangan tanaman kedelai namun belum dikembangkan secara optimal. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus pada potensi-potensi lahan penanaman kedelai tersebut.

Jual Tetes Tebu, Jual Molase, Jual Molases



Dengan segala usaha diatas, diharapkan swasembada kedelai dapat diwujudkan dan dapat menguntungkan semua pihak. Terwujudnya swasembada kedelai akan memberikan pengaruh positif terhadap keberlangsungan ketahananan pangan Indonesia dan memberikan angin segar kepada petani. Sehingga secara bertahap swasembada pangan untuk seluruh komoditi pertanian bisa diwujudkan sebagai bukti bahwa Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki kearifan lokal.
Disamping itu, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa konsumen utama kedelai adalah pengusaha tahu dan tempe. Industri tahu tempe diperkirakan membutuhkan sekitar 2 juta ton kedelai per tahun, dan menghasilkan 3 juta ton tahu dan tempe. Oleh karena itu, industri tahu dan tempe juga perlu lebih diberdayakan. Program pemberdayaan perlu lebih diintensifkan, misalnya melalui pemberian kredit permodalan dan bantuan teknologi pengolahan, supaya mereka bisa beroperasi dengan lebih baik dan apabila mungkin angka produksi akan lebih tinggi dari sebelumnya.

Jual Tetes Tebu, Jual Molase, Jual Molases

Pabrik Biofuel Pertama Berbahan Tetes Tebu Dibuka di Gresik

Dalam rangka penyediaan energi alternatif terbarukan, PT Rajawali Nasional Indonesia bekerjasama dengan PT Choi Biofuel mendirikan industri biofuel pertama di Indonesia. Bahan baku utama industri biofuel ini berasal dari tetes tebu.
Pembangunan pabrik biofuel berkapasitas 50.000 kilo liter per tahun tersebut akan dilaksanakan di Kabupaten Gresik di atas lahan tanah seluas enam hektar. Diperkirakan, pabrik bahan bakar alternatif tersebut membutuhkan sekitar 150.000 ton limbah pabrik gula per tahun.
Selama ini industri MSG memanfaatkan sekitar 60 persen molase sebagai bahan baku. "Namun, tahun demi tahun pabrik MSG diperkirakan akan terus berkurang karena orang mulai menyadari bahaya MSG," kata G.H. Choi CEO Odicorp, salah satu pemegang saham PT Choi Biofuel, Selasa (9/9) di Surabaya.
Menurut Choi, di beberapa negara seperti Jepang dan Korea, industri MSG berbahan baku tetes tebu sudah berhenti total. Karena itu, ke depan persediaan bahan baku limbah tebu untuk memproduksi bahan bakar alternatif dipastikan akan mencukupi.
Nilai investasi dari pabrik biofuel ini berkisar 36.000 US dollar. Pembangunan industri energi alternatif tersebut diperkirakan selesai pertengahan tahun 2010. Seluruh bahan baku industri biofuel akan disuplai PT Rajawali Nusantara Indonesia.


Sumber: KOMPAS.com